Setiap pagi, bahkan sebelum matahari sepenuhnya terbit, Barsini sudah memulai harinya. Setelah menunaikan ibadah, ia merapikan rumah dan menyiapkan sarapan untuk suaminya yang bekerja di Natuna serta anaknya yang akan berangkat sekolah. Rutinitas sederhana ini telah menjadi bagian dari kehidupannya sejak ia mengabdikan diri sebagai pengajar di Sekolah Madinatunnajah, Desa Binjai, Kecamatan Bunguran Barat, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau.
Sudah lebih dari satu dekade Barsini mengajar di sekolah tersebut. Ia memulai sebagai guru ngaji, kemudian melanjutkan pengabdiannya sebagai guru honorer. Mata pelajaran yang ia ajarkan adalah Akuntansi dan Akidah Akhlak—dua bidang yang menurutnya penting untuk membekali siswa, baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat.
Dengan penuh keyakinan, Barsini percaya bahwa seorang guru memiliki peran besar dalam membentuk masa depan anak didiknya. Baginya, guru bukan sekadar pengajar, tetapi juga teladan yang mampu menginspirasi siswa untuk meraih cita-cita.
Setiap hari, ia menempuh perjalanan menuju sekolah selama sekitar 15 hingga 30 menit dengan sepeda motor. Meski jaraknya tidak terlalu jauh, kondisi jalan yang rusak, berlubang, dan licin membuat perjalanan tersebut terasa jauh lebih berat. Sepanjang perjalanan, ia melintasi area hutan yang sepi tanpa banyak pemukiman, hanya ditemani udara lembap khas Natuna dan celoteh anak bungsunya yang selalu ia ajak.
Tak jarang, perjalanan itu juga diwarnai dengan pertemuan tak terduga dengan hewan liar. Ia pernah berpapasan dengan babi hutan di pagi hari, yang memaksanya untuk lebih berhati-hati saat mengendarai motor. Tantangan lain yang kerap dihadapi adalah ketika kendaraannya mogok di tengah hutan, tanpa siapa pun di sekitar. Dalam kondisi seperti itu, ia hanya bisa menunggu bantuan atau menghubungi rekan untuk menjemput.
Ketika hujan turun, situasinya menjadi semakin sulit. Tidak ada tempat berteduh di sepanjang jalan, sehingga ia harus tetap melanjutkan perjalanan demi tiba tepat waktu di sekolah. Dedikasinya sebagai guru membuatnya terus melangkah, meski kondisi tidak selalu bersahabat.
Sebuah kejadian sempat membuatnya harus mendapatkan perawatan. Saat menjemput anak sulungnya, seekor anjing liar tiba-tiba melintas di depannya, menyebabkan ia terjatuh dari motor. Ia mengalami luka lecet dan kendaraannya mengalami kerusakan, namun beruntung lokasi kejadian tidak jauh dari puskesmas sehingga ia bisa segera mendapatkan pertolongan.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Barsini tidak pernah menyerah. Ia tetap menjalani rutinitasnya sebagai seorang ibu sekaligus pendidik. Setiap hari, ia mengantar anaknya, mengajar, dan kembali menempuh perjalanan yang sama dengan penuh kesabaran dan keteguhan hati.
Baginya, rasa syukur menjadi kunci untuk tetap bertahan dalam segala keterbatasan. Ia menjalani semua dengan ikhlas, tanpa banyak keluhan, karena ia percaya bahwa apa yang dilakukannya memiliki makna besar bagi masa depan anak-anak didiknya.
Di akhir ceritanya, Barsini menyampaikan pesan penuh semangat kepada para guru honorer di seluruh Indonesia, khususnya yang bertugas di daerah terpencil. Ia mengajak mereka untuk tetap teguh dalam menjalankan peran sebagai pendidik, karena di tangan merekalah masa depan bangsa dipersiapkan.
Kisah Barsini adalah gambaran nyata bahwa di balik keterbatasan, masih ada sosok-sosok luar biasa yang terus berjuang menyalakan cahaya pendidikan bagi generasi penerus bangsa.








Tinggalkan Balasan